Idul Adha Dan Pelajaran Melepaskan Nafsu Kebinatangan
Setiap Idul Adha, kita kembali menyaksikan pemandangan yang sama : hewan kurban disembelih, dagingnya dibagikan, dan ucapan “Selamat Hari Raya” bergema di masjid dan grup WhatsApp. Ritual ini sudah berjalan ribuan tahun sejak kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Tapi pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah : setelah daging habis dan panci bersih, apa yang berubah dari diri kita?
Dalam Al-Quran, Allah SWT menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada-Nya. Yang sampai adalah ketakwaan kita. Artinya, kurban adalah simbol. Simbol dari kesediaan manusia untuk melepaskan sesuatu yang dicintai demi sesuatu yang lebih tinggi. Jadi Berkurban itu bukan sekedar menyembelih hewan.
Jika kita bedah lebih dalam, yang sebenarnya diminta untuk “disembelih” bukanlah kambing atau sapi saja. Yang diminta adalah nafsu kebinatangan dalam diri kita. Nafsu yang membuat kita gampang marah, serakah, iri, dan merasa paling benar. Nafsu yang membuat manusia bertindak seperti hewan : hidup untuk makan, mempertahankan wilayah, dan menyerang siapa saja yang dianggap mengancam. Dan harusnya Idul Adha bisa mengingatkan kita bahwa manusia diberi akal dan hati nurani untuk mengendalikan itu semua.
Kisah nabi Ibrahim mengorbankan Ismail sering dibaca sebagai kisah ketaatan ekstrem. Tapi mari kita tarik ke konteks hari ini. “Ismail” kita mungkin bukan anak kandung. Ia bisa berupa gengsi yang membuat kita sulit minta maaf. Bisa berupa jabatan yang membuat kita lupa bersikap adil. Bisa berupa dendam lama yang kita pelihara karena merasa paling tersakiti. Melepaskan Ismail zaman sekarang berarti berani mengakui salah, mau berbagi panggung, dan memilih memaafkan meski ego berontak. Itu jauh lebih berat daripada menyembelih kambing.
Masalahnya, banyak dari kita berhenti pada fase teknis: beli hewan, sembelih, bagi daging, selesai. Padahal tujuan sosial dari kurban sangat jelas. Daging dibagikan ke tetangga, fakir miskin, orang yang jarang merasakan daging.
Ini pesan penting: iman yang sehat tidak bisa dipisahkan dari kepedulian sosial. Seseorang yang rajin kurban tapi masih menutup mata pada tetangga yang lapar, sejatinya belum memahami makna kurban. Nafsu kebinatangan belum dilepaskan. Yang ada hanya pemindahan daging dari kandang ke kulkas.
Maka, mari kita merefleksi, Idul Adha bukan hari raya konsumsi. Ia adalah hari raya kesadaran. Kesadaran bahwa hidup bukan tentang menumpuk apa yang kita punya, tapi tentang berani melepaskan apa yang membuat kita jauh dari manusiawi.
Jadi, sebelum kita membagikan foto daging kurban di Instagram, ada baiknya kita tanya pada diri sendiri: apa yang sudah saya kurbani tahun ini? Apa kebiasaan buruk yang saya sembelih? Apa ego yang saya relakan demi menjaga hubungan dengan sesama? Jika jawabannya belum ada, mungkin kurban kita tahun ini baru sampai di halaman rumah. Belum sampai ke hati.
Selamat Idul Adha. Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih mampu mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh nafsu.